Buku ini lahir dari keinginan untuk menelusuri kembali pengetahuan material yang tersimpan dalam manuskrip dan prasasti Bali Kuno. Di dalam teks-teks seperti Ashta Kosala Kosali, Ashta Bhumi, dan Taru Pramana Dewataning Taru, kita menemukan panduan tentang kayu, bambu, batu, tanah, dan ijuk — bukan sekadar sebagai bahan bangunan, tetapi sebagai elemen hidup yang memiliki roh, fungsi ekologis, dan makna spiritual. Setiap material berbicara tentang keseimbangan antara manusia dan alam, antara struktur dan makna. Dalam dunia desain masa kini yang sering didominasi teknologi dan efisiensi, pengetahuan tradisional semacam ini menawarkan perspektif yang segar, bahwa keberlanjutan bukan hanya soal menghemat energi, tetapi juga tentang menghormati kehidupan. Melalui pendekatan filologis, etnobotanis, dan ekologis, buku ini mencoba membaca ulang teks-teks kuno tersebut untuk menemukan relevansinya dengan praktik desain interior berkelanjutan masa kini.