Buku ini lahir dari pertemuan antara refleksi akademik dan pengalaman empirik penulis sebagai petugas haji pada layanan lansia dan penyandang disabilitas. Pengalaman tersebut membuka ruang kesadaran yang mendalam bahwa ibadah haji bukan sekadar rangkaian ritual individual, melainkan peristiwa kemanusiaan yang kompleks, sarat dengan dimensi spiritual, sosial, dan psikologis. Dalam praktiknya, banyak persoalan yang tidak sepenuhnya terjawab oleh pendekatan fikih normatif semata, terutama ketika berhadapan dengan kondisi riil jamaah perempuan yang memiliki keterbatasan fisik, usia lanjut, atau kebutuhan khusus. Berangkat dari pengalaman tersebut, penulis merasakan urgensi untuk menghadirkan kajian fikih yang lebih responsif terhadap realitas perempuan. Buku ini berupaya mengisi ruang tersebut dengan menghadirkan analisis fikih yang berpijak pada prinsip kemaslahatan, keadilan, dan kasih sayang—nilai-nilai yang menjadi inti ajaran Islam. Pendekatan yang digunakan tidak hanya normatif-doktrinal, tetapi juga reflektif dan kontekstual, dengan mempertimbangkan dinamika sosial, budaya, dan psikologis perempuan dalam praktik ibadah haji.